Jakarta–Jawa Timur — Generasi Tuli Indonesia bersama Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menggelar Silaturahim Akbar Pengajian Tuli Indonesia pada 1–4 Januari 2025. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan generasi tuli dari Jabodetabek dan sejumlah wilayah lain sebagai bagian dari pembinaan keagamaan melalui wisata religi dan silaturahim antar komunitas.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan keberangkatan peserta dari Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jakarta, kemudian dilanjutkan ke berbagai lokasi di Jawa Timur. Di antaranya Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, Yayasan Baitul Munir Kendal (GNBS), Pondok Pesantren Gading Mangu, Pondok Pesantren Sabilurrosyidin Surabaya, Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono, serta beberapa tempat lainnya.
Pembina Generasi Tuli Surabaya, Radit, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi para peserta agar semakin kuat keyakinannya, meningkat ibadahnya, serta terbina karakter yang luhur.
“Harapan kami, anak-anak ini semakin termotivasi, meningkat keyakinannya, meningkat ibadahnya, dan benar-benar bisa terbina sehingga bermanfaat dalam kehidupan dunia maupun akhirat,” ujarnya.

Sementara itu, Pembina Generasi Tuli Jawa Barat, Arif, menegaskan bahwa sasaran utama pembinaan adalah generasi tuli yang memiliki keterbatasan agar tetap memperoleh hak pendidikan dan pendampingan yang setara.
“Yang paling penting adalah pendampingan, baik dari keluarga, lingkungan, maupun masyarakat, agar mereka merasa diterima dan terposisikan dengan baik,” jelasnya.
Menurut Arif, pembinaan keagamaan tidak harus selalu dilakukan di dalam ruangan. Kegiatan di luar lingkungan rutin seperti wisata religi dan silaturahim dinilai efektif untuk menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri.
“Di mana pun, baik di dalam maupun di luar ruangan, kita dampingi dan motivasi mereka agar siap menghadapi kehidupan dunia dan akhirat,” tambahnya.
Kegiatan silaturahim ke berbagai daerah juga memberi dampak psikologis yang positif bagi peserta. Banyak dari mereka yang sebelumnya merasa minder dengan keterbatasannya, namun menjadi lebih percaya diri setelah bertemu dengan sesama generasi tuli dari berbagai daerah.
“Mereka saling menguatkan, saling mendukung, sehingga menjadi lebih kuat dan lebih bertakwa serta ridha terhadap takdir Allah,” ujar Radit.
Rasa diterima menjadi kunci utama dalam pembinaan ini. Ketika peserta merasa diterima, kepercayaan diri pun tumbuh dan membuka peluang prestasi. Salah satu contoh nyata adalah kontribusi generasi tuli dalam mendukung terwujudnya Al-Qur’an Isyarah, yang dinilai sebagai prestasi luar biasa dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dari hasil evaluasi dan kesan peserta, pembina melihat adanya perubahan sikap yang signifikan. Peserta menunjukkan rasa syukur yang mendalam, lebih menerima kondisi diri, serta merasakan kuatnya ikatan persaudaraan lahir dan batin.
“Mereka merasa punya teman, punya saudara, sehingga lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” ungkap Arif.
Dalam kegiatan ini, tercatat 55 peserta berasal dari Jakarta dan 46 peserta dari Surabaya, dengan total puluhan generasi tuli dari berbagai daerah yang turut ambil bagian.
Melalui Silaturahim Akbar Pengajian Tuli Indonesia ini, Generasi Tuli Indonesia dan LDII berharap pembinaan keagamaan yang inklusif dapat terus berlanjut, guna mencetak generasi tuli yang beriman kuat, percaya diri, dan mampu berkontribusi positif bagi bangsa dan agama.































